Rabu, 01 Februari 2012

Candi Gunung Sari


Salah satu kepuasan bisa diperoleh ketika berada di puncak. Begitu pula yang saya alami ketika mampir ke Candi Gunung Sari yang terletak di Dusun Gunungsari, Desa Gulon, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Candi ini terletak tidak jauh dari lokasi Candi Gunung Wukir dan Candi Ngawen. Seperti yang terjadi ketika mengunjungi Candi Gunung Wukir, saya harus menaiki bukit kecil seorang diri. Pendakian ini saya lakukan secara mendadak, karena kebetulan ada kesempatan menuju ke Kota Magelang.

Rute Menuju Candi
Di atas bukit inilah, Candi
Gunung Sari berada.
Jika Anda berangkat dari Jogja ke arah Magelang, kira-kira di km 24, Anda akan menemukan perempatan yang dikenal dengan perempatan Gulon. Perempatan ini terletak setelah melewati jembatan baru dan stasiun radio Merapi FM. Beloklah ke kiri (barat) di perempatan tersebut. Kira-kira 1 kilometer dari perempatan, Anda sudah bisa melihat bukit yang ada Candi Gunung Sari-nya.

Saya pun mengikuti rute tersebut, kemudian memarkirkan kendaraan saya di sebuah wartel yang ada di lereng bukit. Atas petunjuk ibu-ibu yang punya wartel tersebut, saya pun mulai mendaki bukit tersebut melalui jalan setapak yang ada di samping wartel. Rute yang saya lewati bukan terbuat dari batu, tetapi jalan setapak dari tanah biasa. Perjalanan memang terasa capek karena saya membawa banyak sekali buku di dalam ransel. Ditambah lagi, daerah ini baru diguyur hujan sepanjang malam. Hal ini tentu membuat jalanan menjadi licin, bahkan saya sampai terpeleset.

Medan jalan menuju Candi Gunung Sari (kiri), dan pemandangan yang bisa dilihat dari atas bukit (kanan).

Di dekat lingga inilah saya beristirahat.
Pada mulanya memang rasanya jauh banget. Akan tetapi setelah melihat papan nama candi, rasa lelah ini seperti terbayar. Saya pun memasuki area candi dan beristirahat di sana. Hmmm, matahari sudah mulai meninggi, jadi rasanya panas. Saya duduk di depan pos jaga dan nyaris tertidur di sana!

Candi Gunung Sari bercorak agama Hindu. Konon, candi ini ditemukan ketika penggalian tanah di bukit tersebut guna pemasangan tower pemancar stasiun televisi. Pemasangan tower pun dibatalkan, sedangkan proyek di bukit ini dilanjutkan oleh dinas purbakala. Di dalam lokasi candi, sepertinya ada reruntuhan perwara candi yang ditumbuhi pohon. Sepertinya perwara tersebut masih dipakai seseorang untuk tujuan mistis. Di sekitar candi, terdapat Pertapaan Petruk yang benar-benar terlewat dari pandangan saya. Saya tahu pertapaan ini setelah turun dan berbincang-bincang dengan ibu-ibu di wartel.

Batu-batu di candi induk.
Candi perwara yang masih digunakan untuk tujuan mistis.
Ini artinya apa ya?
Butterfly....

Luweng, kompor tradisional.
Setelah puas melihat-lihat bangunan candi, saya pun turun gunung melalui jalur lain. Jalan setapak itu membawa saya ke pemakaman yang ternyata ada batu candinya. Saya pun menuruni pemakaman dan tiba di Dusun Gunungsari. Ketika berjalan keluar, saya melihat ada banyak sekali benda berbentuk kotak dengan dua lubang yang terbuat dari tanah liat. Benda inilah yang kemudian saya ketahui bernama luweng (cara baca huruf 'e' seperti pada elang) setelah bertanya kepada penduduk sekitar. Fungsi dari luweng tidak lain adalah tungku untuk masak. Ternyata dusun ini cukup jauh dari tempat saya memarkir motor.

Batu candi di area pemakaman (kiri) dan akses menuju Candi Gunung Sari via pemakaman (kanan).

Setelah berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang punya wartel tersebut, saya pun pulang menelusuri jalan alternatif Kali Putih. Oh My God! Saya melewati kampung pasir, kayak yang ada di film-film bencana alam. Semoga yang tinggal di daerah ini diberi kedamaian dan ketabahan hati.

Reactions:

2 comments:

kayaknya tau tuh ibu ibu penjaga wartelnya wkwkwk..tetangga ane tuh hahaa

kapan kesini??

@Fauzan Rhomadi: wow, salam hangat dari saya untuk Anda dan ibu itu.
Saya ke sana waktu pasca lahar dingin (lupa tanggalnya), trus blusukan sampai ke dalam-dalam.

Poskan Komentar

Mari berbagi cerita